Indonesia Juara

Knowledge is Power, The Best Education is to Empower

Studi Banding SMP Juara ke Qaryah Thayyibah

Studi Banding SMP Juara ke Qaryah Thayyibah

oleh Inu Yuniarti,  SMP Juara Bandung

Rabu, 28 Maret 2012, SMP Juara Bandung mengadakan studi banding ke komunitas belajar alternatif Qaryah Thayyibah, Kalibeng, Salatiga. Awalnya saya mengira Qaryah Thayyibah adalah sebuah sekolah layaknya sekolah pada umumnya dengan gedung, siswa, dan guru di dalamnya. Namun dugaan saya sedikit meleset. Setibanya di sana, saya hanya menemukan sebuah bangunan yang lebih mirip rumah berlantai 2 dengan aula besar tanpa kursi dan tanpa siswa di lantai 1 (Sobat pejuang bisa lihat bangunannya di youtube dengan kata kunci video singkat LSD Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga).

Di sana kami disambut Pak Bahrudin selaku penggagas Qaryah Thayyibah. Dari beliaulah kami mengetahui banyak hal tentang komunitas belajar yang unik ini. Komunitas ini memang unik. Bagaimana tidak, semua proses belajar ditentukan oleh anak-anak sendiri. Kegiatan apa yang akan dilakukan ditentukan oleh mereka sendiri dalam kelasnya masing-masing. Qaryah Thayyibah memiliki 6 kelas, mulai dari kelas 1 SMP sampai dengan kelas 3 SMA dengan total siswa 50 orang. Setiap hari Senin mereka berkumpul untuk “Upacara”. Upacara ini dilakukan dalam ruangan sambil duduk. Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, setiap siswa akan melaporkan kegiatan yang sudah dan akan dilakukannya beserta evaluasinya. Tak ada pelajaran wajib! Satu-satunya mata pelajaran wajib adalah materi kesehatan yang dilakukan setiap hari Jumat. Sayang, saat kami ke sana, kami tidak bisa melihat langsung proses pembelajarannya.

Bila dilihat dari sejarahnya, komunitas belajar Qaryah Thayyibah dulunya adalah SMP terbuka. SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin melihat pendidikan di Tanah Air yang makin bobrok dan semakin mahal. Pada pertengahan tahun 2003 anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Hilmy telah mendapatkan tempat di salah satu SMP favorit di Salatiga. Namun, Bahruddin terusik dengan anak-anak petani lainnya yang tidak mampu membayar uang masuk SMP negeri yang saat itu telah mencapai Rp 750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per bulan, belum lagi uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah. Bahruddin yang saat itu menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya kemudian berinisiatif mengumpulkan warganya menawarkan gagasan, bagaimana jika mereka membuat sekolah sendiri dengan mendirikan SMP alternatif. Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, 12 orang berani memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Bahruddin juga memasukkan Hilmy ke sekolah yang diangan-angankannya.

Berbeda dengan kecenderungan kelembagaan pendidikan yang biasanya mengarah dari formal menuju non-formal dan bermuara di pendidikan formal, Qaryah Thayyibah menempuh jalan sebaliknya, yaitu berawal dari SMP Terbuka, kemudian menjadi non formal, dan bermuara di informal.

Selain pengelompokkan kelas, di Qaryah Thayyibah pun berlaku pengelompokkan forum. Siswa boleh masuk ke forum yang ada seperti forum ilalang (kepenulisan), forum musik, forum teater, forum komputer, dan lain-lain sesuai dengan minatnya. Namun, yang menentukan dia boleh masuk atau tidak dalam forum tersebut adalah siswa yang sudah lebih dulu tergabung dalam forum. Tidak ada jam khusus masuk dan keluar kelas. Tak ada guru kelas atau pembina forum yang khusus menangani kelas dan forum sesuai keahliannya. Yang ada adalah teman belajar. Anak-anak belajar melalui Internet dan dari siapapun.

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: